Bab.I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Belakangan ini banyak orang Indonesia
yang kurang mengerti bahasanya sendiri. Bukan dalam makna sebenarnya, akan
tetapi mereka kurang paham akan kaidah-kaidah dan aturan tata bahasa yang ada
di dalam Bahasa Indonesia. Berangakat dari masalah diatas, maka penulispun
membuat makalah ini. Makalah ini sendiri membahas mengenai ejaan dan pemakaian
tanda baca dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana
melambangkan bunyi-bunyi ujaran, bagaimana menempatkan tanda-tanda baca,
bagaimana memotong-motong suatu kata, dan bagaimana menggabungkan kata-kata.
Tanda baca adalah simbol yang
tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan
untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta
jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar
bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah
suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis.
2. Rumusan Masalah
1)
Apakah yang dimaksud dengan ejaan ?
2)
Apa saja macam yang ada di Bahasa Indonesia ?
3)
Apa yang dimaksud dengan tanda baca ?
4)
Bagaimana pemakaian tanda baca yang benar dalam Bahasa
Indonesia ?
3. Tujuan Makalah
1)
Mengidentifikasi pemakaian EYD yang benar dan baku
dalam Bahasa Indonesia.
2)
Mengidentifikasi pemakaian tanda baca yang benar dan
baku dalam Bahasa Indonesia.
Bab.II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Ejaan
Ejaan adalah
keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran, bagaimana
menempatkan tanda-tanda baca, bagaimana memotong-motong suatu kata, dan
bagaimana menggabungkan kata-kata.
B.
Macam-macam
Ejaan
(a) Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen disebut juga Ejaan Balai pustaka.
Masyarakat pengguna bahasa menerapkannya sejak tahun 1901 sampai 1947.Ejaan ini
merupakan karya Ch.A. Van
Ophuysen, dimuat dalam kitab Logat
Melayoe (1901). Ciri khusus
ejaan Van Ophuysen:
Ejaan ini digunakan untuk menuliskan
kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu
menggunakan huruf Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:
1.
Huruf (u) ditulis (oe).
2.
Komahamzah (k) ditulis dengan tanda (’) pada
akhir kata misalnya bapa’, ta’
3.
Jika pada suatu kata berakhir dengan huruf (a)
mendapat akhiran (i), maka di atas akhiran itu diberi tanda trema (”)
4.
Huruf (c) yang pelafalannya keras diberi tanda
(’) diatasnya
5.
Kata ulang diberi angka 2, misalnya: janda2
(janda-janda)
6.
Kata majemuk dirangkai ditulis dengan 3 cara :
· Dirangkai menjadi satu, misalnya (hoeloebalang, apabila)
· Dengan menggunakan tanda penghubung misalnya, (rumah-sakit)
· Dipisahkan, misalnya (anaknegeri)
Huruf hidup yang diberi titik
dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö,
menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan dipotong,
sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.
Kebanyakan catatan tertulis
Bahasa Melayu pada masa itu menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai tulisan Jawi.
(b)
Ejaan Republik/Ejaan Suwandi
Ejaan Republik dimuat dalam
surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mr. SoewandiNo.264/Bhg. A tanggal 19 maret 1947.Sebab ejaan
ini disebut sebagai Ejaan Suwandi. Sistem ejaan suwandi merupakan sistem ejaan
latin untuk Bahasa Indonesia.
Ciri khusus Ejaan Republik/ Suwandi :
1.
Huruf (oe) dalam ejaan Van Ophuysen berubah
menada (u).
2.
Tanda trema pada huruf (a) dan (i)
dihilangkan.
3.
Koma ‘ain dan koma hamzah dihilangkan. Koma
hamzah ditulis dengan (k) misalnya kata’ menjadi katak.
4.
Huruf (e) keras dan (e) lemah ditulis tidak
menggunakan tanda khusus,
misalnya ejaan, seekor, dsb.
5.
Penulisan kata ulang dapat dilakukan dengan
dua cara.
Contohnya :
a. Berlari-larian
b. Berlari2-an
6.
Penulisan kata majemuk dapat dilakukan dengan
tiga cara
Contohnya :
a. Tata laksana
b. Tata-laksana
c. Tatalaksana
7.
Kata yang berasal dari bahasa asing yang tidak
menggunakan (e) lemah (pepet) dalam Bahasa Indonesia ditulis tidak menggunakan
(e) lemah, misalnya: (putra) bukan (putera), (praktek) bukan (peraktek).
(c) Ejaan Malindo
Ejaan Malindo
(Melayu-Indonesia) adalah suatu ejaan dari perumusan ejaan melayu dan
Indonesia.Perumusan ini berangkat dari kongres Bahasa Indonesia tahun 1954 di
Medan, SumateraUtara.Ejaan Malindo ini belum sempat diterapkan
dalam kegiatan sehari-hari karena saat itu terjadi konfrontasi antara Indonesia
dan Malaysia.
(d) Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan/EYD
Pada Pada tanggal 16 Agustus
1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaianEjaan Bahasa Indonesia.
Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57,Tahun 1972.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul
Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian
ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu
dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat
putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua),
menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang
berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan
surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9
September 1987.
1.
Pemakaian Huruf
Apabila dibanding dengan Ejaan Suwandi, ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan menggunakan huruf abjad lebih banyak. Ejaan Suwandi hanya menggunakan 19 huruf
sedangkan Ejaan Bahasa Indonesia yang tlah Disempurnakan menggunakan 26
huruf.Jumlah huruf dalam abjad ada 26 buah.Ini berarti
ejaan kita sekarang telah memanfaatkan semua huruf yang terdapat dalam
abjad.Kebijakan ini merupakan suatu langkah maju dalam pengembangan Bahasa Indonesia.
Pemakaian Bahasa Indonesia
ingin berkembang dan maju dalam segala bidang seirama dengan tuntutan
pembangunan. Langkah praktis yang ditempuhnya dengan menyerap unsur-unsur asing
(yang mengandung konsep yang tidak terdapat dalam Bahasa Indonesia) dalam
pemakaian Bahasa Indonesia.karena tidak ada konsepnya dalam Bahasa Indonesia,
mereka menyerap unsur asing, misalnya, izin, folio, dan vak dalam Bahasa
Indonesia. Dengan demikian, unsur bunyi z, f, v yang tadinya tidak ada dalam
Bahasa Indonesia menjadi ada .hal ini tidk dapat dihindari, sebab situasi dan
kondisi menuntut yang seperti itu. Kita tidak pantas lagi mengikuti aliran purisme yang mempertahankan “keaslian”
bahasanya secara tidak proposional.Menyadari keadaan yang demikian itulah,
ejaan kita sekarang menerima pemakaian huruf z, f, v, q, x, dan c dalam Bahasa
Indonesia, walaupun pemakaiannya dalam batas-batas tertentu.
·
Huruf q dan x pemakaiannya
dibatasi hanya dalam keperluan ilmu dan nama. Jadi, dalam pemakain umum, yaitu
dalam kata-kata umum dan istilah, kedua huruf itu belum dapat dipakai. Dalam
matematika, misalnya, dapat menandai sesuatu dengan q da x. begitu juga nama
Baihaqi, Iqbal (nama orang); dan xerox, Xerxes, sinar-X (nama barang)
dibenarkan. Tetapi kata-kata asing aquarium, equator, quadrat, extra, dan taxi
harus dituliskan akuarium, ekuator, kuadrat, ekstra, dan taksi.Jadi q diganti k dan x digantti ks.
·
Huruf f dan v, walaupun dalam
Bahasa Indonesia keduanya dibunyikan sama tetap dipakai secara berbeda.
Kata-kata asing yang diucapkan (f) tak bersuara oleh pemakaian bahasa asing
yang bersangkutan ditulis f dalam Bahasa Indonesia, sedangkan yang diucapkan
(v) besuara oleh pemakaian bahasa asing yang bersangkutan dilambangkan dengan
v. jadi, kata-kata asing factor, physiology, photocopy, vitamin, television,
dan vacuum diubah menjadi faktor, fisiologi, fotokopi, vitamin, televisi, dan
vakum.
·
Sedangkan huruf c dan y
pemakaian kedua huruf ini sebagai realisasi kerjasama antara indonesia dan
Malaysia, khususnya dalam hal pengembangan dan pembinaan kedua bahasa, yaitu
Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia . apabila pada Ejaan suwandi penulisan bunyi
(cacat) dan (sayat) ditulis tjatjat dan sajat, maka pada ejaan sekarang ditulis
cacat dan sayat. Dalam Bahasa Melayu pun ditulis cacat dan sayat.
·
Bunyi (z) pada unsur asing yang
masuk kedalam Bahasa Indonesia ditulis sebagai bunyi aslinya, yaitu z. oleh
sebab itu, kata zakat, ziarah, zebra, zat, zodiac yang dianggap tepat, tetapi
bukan jakat, jiarah, jebra, jat, dan sodiak.
Masalah lain yang perlu dibicarakan
sehubungan dengan pemakaian huruf ini ialah tentang pelafalan huruf. Di dalam
pedoman ejaan sekarang ini telah disebutkan tentang pelafalan huruf abjad yang
dipakai dalam Bahasa Indonesia. Secara terperinci, huruf-huruf serta nama dan
bunyinya sebagai berikut.
|
huruf
|
nama
|
bunyi yang dilambangkan
|
huruf
|
nama
|
bunyi yang dilambangakan
|
|
A
|
A
|
A
|
N
|
En
|
N
|
|
B
|
Be
|
B dan P
|
O
|
O
|
O
|
|
C
|
Ce
|
C
|
P
|
Pe
|
P
|
|
D
|
De
|
D dan T
|
Q
|
Ki
|
K
|
|
E
|
E
|
E
|
R
|
Er
|
R
|
|
F
|
Ef
|
F
|
S
|
Es
|
S
|
|
G
|
Ge
|
G dan K
|
T
|
Te
|
T
|
|
H
|
Ha
|
H
|
U
|
U
|
U
|
|
I
|
I
|
I
|
V
|
Ve
|
F
|
|
J
|
Je
|
Je
|
W
|
We
|
W
|
|
K
|
Ka
|
K dan G
|
X
|
Eks
|
Ks
|
|
L
|
El
|
L
|
Y
|
Ye
|
Y
|
|
M
|
Em
|
M
|
Z
|
Zet
|
Z
|
Selain huruf-huruf abjad di
atas dalam Bahasa Indonesia juga dikenal Huruf Diftong. Huruf Diftong merupakan
dua bunyi vokal yang dirangkap dalam satu suku kata. Di antara dari huruf-huruf
diftong tersebut ialah:
|
Huruf Diftong
|
Contoh Pemakaian dalam Kata
|
|
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|
Ai
Au
Oi
Ei
|
Ain
Aula
–
–
|
Syaitan
Saudara
Boikot
Pleistosen
|
Pandai
Harimau
Amboi
Survei
|
Terlepas dari huruf abjad utama
pula dalam Bahasa Indonesia terdapat gabungan huruf konsonan yang membentuk
sebuah bunyi. Contohnya adalah:
|
Gabungan Huruf Konsonan
|
Contoh Pemakaian dalam Kata
|
|
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|
Kh
Ng
Ny
Sy
|
Khusus
Ngilu
Nyata
Syarat
|
Akhir
Bangun
Hanyut
Isyarat
|
Tarikh
Senang
–
–
|
2. Penulisan Huruf
Tentang penulisan huruf ini ada
dua hal yang dibicarakan yaitu tentang penulisan huruf besar atau kapital dan
tentang penulisan huruf miring.
Di dalam pedoman ejaan telah dijelaskan bahwa
penulisan huruf kapital selain dipakai sebagai huruf pertama kata awal kalimat
juga dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:Mengapa kamu sedih?
Ayah bertanya, “Mengapa kamu sedih?”
“Mengapa kamu sedih?”Tanya ayah.
Dalam pemakaian sehari-hari,
terutama dalam suratkabar dan majalah, sering kita jumpa pemakaian nama gelar,
jabatan dan pangkat diikuti selain nama orang, bahkan tidak diikuti sama sekali.
Misalnya pada kalimat berikut:
·
Kemarin Gubernur Jawa Timur berkunjung ke Desa besuki.
·
Pada kesempatan itu, Gubernur menghimbau agar penduduk ikut
mensukseskan sensus pertanian.
·
Bersamaan dengan itu, Camat Karang Ploso, Hermadi,
juga melaporkan kemajuan daerah itu kepada Bupati Malang, Edi Slamet.
Pada prinsinya penulisan nama
gelar, jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang tidak ditulis dengan huruf
kapital awal katanya. Tetapi contoh-contoh diatas walaupun tidak diikuti nama
orang terap mengacu kepada orang tertentu. Berarti sebagai nama pengganti nama
diri. Oleh sebab itu, huruf awal nama jabatan atau gelar ketiga contoh diatas
ditulis dengan huruf kapital.
Lain lagi halnya dengan pemakaian nama jabatan
pada contoh berikut:
·
Seorang gubernur yang menjabat di daerah yang
masyarakatnya multi kompleks harus bijak.
·
Siapa saja yang menjadi gubernur jawa timur harus dapat menjalankan program Koran
masuk desa
·
Apakah kakakmu yang menjadi camat Sekar Putih sekarang?
Kata gubernur, gubernur jawa
timur, dan camat Sekar Putih ditulis dengan huruf kecil awalnya, sebab tidak
menunjuk pada orang tertentu. Jadi, kata yang menunjukkan jabatan atau pangkat
tersebut sama dengan kata-kata benda umumnya, seperti radio, rumah, orang, dan
kucing.
Masalah selanjutnya tentang
bagaimana penulisan kata yang mengikuti kata sandang? Ditulis dengan kata
sandang apa tidak? Yang jelas, ada dua kemungkinan. Apabila mengikuti kata
sandang merupakan kata nama, maka awal katanya ditulis dengan huruf besar.
Jadi, penulisan berikutlah yang benar.
-
si Gandu
-
sang Kerempeng
-
si Bisu
Tetapi, apabila yang mengikuti
kata sandang berupa kata pengganti nama, huruf awal tidak ditulis dengan huruf
kapital, misalnya:
-
si terdakwa
-
si anak
-
sang pembatu
-
sang istri
Tentang penulisan kata yang
menunjukkan kekerabatan apakah ditulis dengan huruf kapital awalnya? Tidak selalu. Yang ditulis dengan
huruf kapital awalnya hanyalah yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan
saja, sedangkan yang lainnya tidak.Perhatikan conroh kata yang menunjuk
kekerabatan berikut.
·
Mengapa Saudara mengatakan hal itu?
·
Saya benar-benar menganggap
keluarga Pak Ali sebagai saudara sendiri.
·
“Ayo, ke sini, Nak !” kata Ibu kepadaku.
·
Seorang anak harus berbakti
kepada ibunya.
Kata saudara pada kalimat
pertama serta nak dan ibu pada kalimat ke-tiga ditulis dengan
huruf kapital awalnya karena kata tersebut sebagai kata sapaan (Saudara dan
Nak) dan kata ganti (Ibu).Pada kalimat ke-2 dan ke-4 ditulis dengan huruf
biasa, karena bukan sebagai kata ganti atau sapaan.
3.
Penulisan Kata
Penulisan Kata dalam Bahasa
Indonesia merupakan sebuah urgensi yang tak boleh lepas dari sistem penulisan.
Karena tiap karya sastra Bahasa Indonesia terbentuk dari kata-kata.
Di antara poin penting penulisan kata dalam
EYD ialah:
1.
Kata Dasar
Kata yang sudah mewakili sebuah arti tanpa
imbuhan apapun
2.
Kata Turunan
Merupakan kata dasar yang telah mengalami
perubahan berupa imbuhan
3.
Bentuk Ulang
Merupakan kata yang ditulis berulang, baik
bermakna tunggal, jamak maupun berulang. Bentuk kata berulang ini dihubungkan
dengan lambang (-)
4.
Gabungan Kata
Merupakan kata majemuk yang mewakili sebuah
arti. Adakalanya ditulis terpisah, bersambung, maupun dihubungkan dengan tanda
(-)
5.
Kata Ganti –ku,
kau, –mu, dan –nya
Kata yang menggunakan imbuhan kepunyaan ini
ditulis bersambung
6.
Kata Depan di,
ke, dan dari
Tiap-tiap kata depan ditulis terpisah dengan
kata dasarnya
7.
Kata si dan sang
Kata yang menunjukkan sebuah subyek maupun
obyek ini ditulis terpisah dengan kata dasarnya
8.
Partikel
Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata
dasarnya, sedangkan partikel pun ditulis terpisah. Selain itu partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan
‘tiap’ ditulis terpisah dari kata dasarnya
9.
Singkatan dan Akronim
10. Angka dan Lambang Bilangan
4.
Penulisan Unsur Serapan
Masalah pemakaian atau
penulisan unsur serapan dalam Bahasa Indonesia sangat runyam.Dikatakan demikian
sebab pemakaian Bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa
memperhatikan situasi dan kondisinya.
Penyerapan unsur asing dalam pemakaian Bahasa
Indonesia dibenarkan apabila:
1.
Konsep yang terdapat dalam unsur itu tidak ada
dalam Bahasa Indonesia, atau
2.
Unsur itu merupakan istilah teknis sehingga
tidak atau kerang layak dipakai unsur Indonesianya.
Apakah dengan penyerapan itu
menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia miskin akan kata-kata? Tidak.Penyerapan
unsur asing merupakan kejadian biasa pada setiap bahasa. Hal itu terjadi karena setiap bahasa
mendukung kebudayaan pemakainya. Sedangkan kebudayaan pemakai bahasa satu
dengan yang lain tidak ada yang sama. Pada suatu saat karena masyarakat pemakai
bahasa yang satu dengan yang lainnya (yang masing-masing berlatar belakang
kebudayaan berbeda) berkomunikasi, maka timbullah akulturasi, yaitu saling
berpengaruhnya satu kebudayaan dengan yang lain. Salah satu wujud akulturasi itu adalah
saling berpengaruhnya konsep-konsep tertentu. Misalnya, karena masyarakat
Indonesia tidak mempunyai konsep tenteng “radio”, maka mereka menyerap konsep
itu dari masyarakat pemakai bahasa Inggris. Sebaliknya, karena masyarakat
pemakai bahasa Inggris tidak mempunyai konsep “bambu” maka mereka menyerap
konsep itu dari masyarakat pemakai Bahasa Indonesia.Jadi peristiwa penyerapan
tidak ada kaitannya dengan kaya atau miskin kata-kata.
Berikut ini disajikan beberapa kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur
serapan adaptasi:
·
ae, jika bervariasi dengan e,
menjadi e
Haemoglobin
= hemoglobin
Haematite = hematite
·
ai tetap ai
Trailer = trailer
Caisson = kaison
·
e, di muka a,u, o dan konsonan,
menjadi k
Construction
= konstruksi
Crystal = Kristal
Classification = klasifikasi
Caupe = kup
·
c, di muka e,I,oe, dan y,
menjadi s
Central =
sentral
Cylinder =
silinder
Ceolom = selom
·
cc, di muka o,u, dan konsonan,
menjadi k
Accommodationa = komodasi
Acculturation = akulturasi
Accumulation =
akumulasi
·
cch dan ch, di muka a,o,dan
konsonan, menjadi k
Charisma = karisma
Chromosome = kromosom
·
ch, yang lafalnya c menjadi c
Chek = cek
China = cina
·
ee (belanda) menjadi e
Statosfeer = statosfer
System = system
·
ph, menjadi f
Phase = fase
Photocopy = fotokopi
·
q menjadi k
Aquarium = akuarium
Equator = ekuator
C. Pengertian Tanda Baca
Tanda baca adalah simbol yang
tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan
untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta
jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar
bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah
suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis.
D. Macam-macam Tanda Baca
Untuk memahami sebuah kalimat
dengan sempurna kita perlu memperhatikan tanda baca yang digunakan di dalamnya.
Ada beberapa tanda baca yang dipakai dalam Bahasa Indonesiayaitu :
1.
Tanda baca titik (.)
Ada beberapa kaidah dalam penggunaan tanda baca
titik (.) yaitu :
a.
Tanda baca titik (.) digunakan untuk
mengakhiri kalimat yang bukan yang bukan berupa kalimat tanya atau kalimat
seruan.
Contoh : – Saya beragama islam
–Hakikat pendidikan adalah memanusiakan
manusia.
b.
Tanda baca titik (.) digunakan dibelakang
angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar.
Contoh :– 4.1 Pembahasan
–Lampiran 2. Calon jamaah haji
c.
Tanda baca titik (.) digunakan untuk
memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu.
Contoh :– pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35
menit 20 detik)
d.
Tanda baca titik (.) digunakan diantara nama
penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru,
dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh : – Lesatariningrum, Dwi. 1989. Teknik
Menjahit. Malang: Intan.
2.
Tanda baca koma (,)
Kaidah-kaidah penggunaan tanda
baca koma (,) adalah sebagai berikut:
1. Tanda baca koma (,) digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu
perincian.
Contoh:Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
2. Tanda baca koma (,) digunakan untuk memisahkan kalimat setara,
apabila kalimat setara berikutnya diawali kata tetapi atau melainkan.
Contoh:– Semua pergi, tetapi dia tidak.
–Dia bukan kakakku, melainkan adikku.
3. Tanda baca koma (,) digunakan apabila anak kalimat mendahului
induk kalimat.
Contoh: Jika
hari ini tidak hujan, saya akan dating.
4. Tanda baca koma (,) digunakan untuk memisahkan anak kalimat jika
anak kalimatnya itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Saya
akan memaafkan, jika ia bertobat.
5. Tanda baca koma (,) digunakan di belakang ungkapan penghubung
antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dia
malas belajar. Oleh karena itu, dia tidak naik kelas.
3.
Tanda baca titik koma (;)
Kaidah penggunaannya sebagai berikut :
1. Digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau
setara.
Contoh: Matahari
hamper terbenam; sinarnya yang kemerah-merahan; memantul di atas permukaan
laut; indah sekali pemandangan ketika itu.
2. Digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu
kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Sore
itu kami sekeluarga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayah sedang membaca
Koran; ibu menjahit baju; saya asyik membersihkan taman di depan rumah.
4.
Tanda baca titik dua (:)
Kaidah penggunaannya sebagai berikut:
1.
Digunakan sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan perincian.
Contoh:Ketua :
Ahmad Wijaya,
Sekretaris :
Imam Tantowi
Bendahara: Siti Khotijah
2. Digunakan di anatara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab
dan ayat di dalam kitab suci, di antara judul dan sub judul, serta nama kata
dan penerbit buku acuan.
Contoh: Tempo,
I (1971). 34:7
Surat Yasin:19
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup:
Sebuah Studi, sudah terbit.
5.
Tanda hubung (-)
Kaidah penggunaannya sebagai berikut :
1. Digunakan untuk merangkaikan se-dengan kata berikutnya yang di
dimulai dengan huruf capital, ke- dengan angka, angka dengan- an, singkatan
berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.
Contoh: Se-Indonesia
hadiah ke-2
tahun 50-an
Menteri-Sekretaris-Negara
sinar-X
Men-PHK-kan
2. Digunakan untuk merangkai bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Contoh: di-smash, di-drill, mem-beckup,
di-carge
6.
Tanda Pisah (–)
Tanda pisah (–) digunakan di antara dua
bilangan atau tanggal dengan arti “sampai ke“ atau “sampai dengan”. Penulisan
tanda baca pisah (–)dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum
dan sesudahnya.
Contoh: 1920–1945
Tanggal 15—10 April 19970
(Samsudin), 1999:25—34
Samsudin (1999:25—34)
7.
Tanda elipsis (…)
Tanda ini digunakan untuk menunjukan bahwa dalam
suatu kalimat atau naskah ada bagian yang hilang.
Contoh: Sebab-sebab
kemerosotan akhlak dikalangan mahasiswa…atau diteliti lebih lanjut.
8.
Tanda kurung ((…))
Tanda ini digunakan untuk hal-hal sebagai
berikut:
1.
Digunakan untuk mengapit tambahan keterangan
atau penjelasan.
Contoh: Dalam
buku KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Bab II pasal 10.
2.
Digunakan untuk mengapit keterangan atau
penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh: Aku
(sebuah puisi karangan Chairul Anwar) adalah puisi angkatan 45.
9.
Tanda tanya (?)
Tanda tanya (?) digunakan pada akhir kalimat
tanya, yakni kalimat yang membutuhkan jawaban.
Contoh: Siapa
yang membawa tas saya ?
10. Tanda seru (!)
Tanda ini digunakan sesudah ungkapan atau
pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Contoh:
-
Alangkah seramnya peristiwa itu!
-
Ambilkan buku itu!
-
Duduklah!
-
Dasar mata keranjang!
11. Tanda kurung siku ( [] )
Tanda ini digunakan untuk mengapit keterangan
dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh: Persamaan
kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan dalam Bab II [lihat halaman 67-89])
12. Tanda petik (“…..”)
Tanda petik digunakan untuk mengakhiri petikan
langsung .
Contoh: Kata
Toto,”Saya juga berpuasa.”
“Hakikat pendidikan adalah memanusiakan
manusia”(Imran,1998)
13. Tanda petik tunggal (‘…’)
Tanda ini digunakan untuk mengapit makna,
terjemahan, dan penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh:
-
Mastery Learning ‘belajar tuntas’
-
Reformasi ‘perubahan’
-
Keplicuk ‘dalam Bahasa Indonesia disebut
terkilir’
-
Islami ‘bernuansa islam’
14. Tanda garis miring (/)
Tanda garis miring digunakan dalam menulis
nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang tebagi dalam
dua tahun takwim.
Contoh:
-
14/YPU-i/12/99
-
Jalan Kramat III/10 Jakarta
-
Tahun Anggaran 1985/19986
15. Tanda apostrof (‘)
Tanda ini berfunsi untuk penyingkat suatu kata
yang digunakan untuk menunjukan penghilangan bagian suatu kata atau bagian
angka tahun.
Contoh:
-
malam ‘lah tiba (‘lah = telah)
-
1 Januari ’88 (’88 = 1988)
Berdasarkan uraian di atas
tentang penggunaan tanda baca yang berlaku di dalam EYD dalam Bahasa Indonesia
secara garis besar prinsip-prinsip umum pemakain tanda baca dapat diuraikan
sebagai berikut
1. Tanda tanya (?), tanda titik (.), tanda titk koma (;), tanda titik
dua (:), dan tanda seru (!), ditulis rapat (tanpa spasi) dengan huruf akhir
dengan kata yang mendahuluinya dan diberi spasi dengan kata yang sesudahnya.
2. Tanda petik ganda (“), tanda petik tunggal (‘), dan tanda kurung
(()) masing-masing diketik rapat dengan kata, frase, atau kalimat yand diapit.
3. Tanda hubung (-), tanda pisah (–), dan garis miring (/)
masing-masing diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.
4. Tanda hitungan, seperti: sama dengan (=), tambah (+), kurang (-),
kali (x), bagi (:), lebih kecil (<), lebih besar (>) ditulis dengan jarak
satu spasi dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya.
Bab.III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Ejaan merupakan keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang-lambang
bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara lambang-lambang itu
(pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa. Ejaan yang disempurnakan
bertujuan untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa indonesia yang baik dan
benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam EYD, seperti :
1.
Pemakaian huruf
2.
Penulisan kata
3.
Pemakaian tanda baca
2. Saran
Setelah
penulis membuat seluruh isi dari makalah ejaan dan pemakaian tanda baca dalam
Bahasa Indonesia ini penulis bermaksud memberi sedikit saran kepada pembaca
untuk memperhatikan bagaimana cara menulis ejaan dan tanda baca yang benar
sesuai aturan bakunya guna menjaga kebakuandari Bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
-
Syafi’ie, Dr. Imam. 1990. Bahasa Indonesia Profesi.
Malang: IKIP Malang
-
Yaqin, M. Zubad Nurul. 2011. Bahasa Indonesia Keilmuan.
Malang: UIN Maliki Press
-
Tim Pustaka Widyatama. 2009. EYD Lengkap. Malang: Pustaka
Widyatama